Buku,  Ulasan

Bisik-Bisik Reda Gaudiamo

Beberapa minggu lalu, aku membaca buku ini di sebuah kafe di dekat kos. Aku membaca ditemani live music dari band lokal, dan suami di depanku sedang Twitter-an. Tidak lama setelah memesan, mas-mas kafe membawakan minuman kami. Sambil menyeruput minuman pesanan (aku lupa aku pesan apa) dan menepuk-nepuk nyamuk yang lewat di kaki, aku membaca buku mungil ini. Judulnya saja sudah misteriuz: “Bisik-Bisik”

Aku tahu tentang Reda Gaudiamo dari duetnya bersama (alm.) Ari Malibu, musikalisasi puisi favorit sejuta umat: Aku Ingin (Mencintaimu dengan Sederhana) karya Sapardi Djoko Damono. Bagus banget, sampai-sampai aku bercita-cita nanti kalau pandai main gitar, aku mau ikut nyanyi lagu itu sambil main gitar.

Pak Sapardi juga yang menulis kata pengantar untuk buku kumpulan cerpen “Bisik-Bisik.” Aku akan banyak mengutip kata-kata Pak Sapardi di kata pengantar, karena, yah memang begitulah! Tulisan pengantarnya makin bikin aku penasaran. Katanya, “Tetapi bukankah seni itu suatu permainan, yang bisa saja mengasyikkan, bagi pencipta maupun—insyaalah—bagi penikmat.” Loh, buku ini kumpulan cerpen, atau buku seni?

Berlatar kehidupan urban Jakarta (atau sekitarnya), semua cerita pendek di buku ini berisi dialog. Melalui dialog-dialog antartokoh— yang kebanyakan tidak bernama, kita dapat melihat latar, penokohan, dan alur cerita, tanpa narasi dan deskripsi seperti umumnya cerita pendek. Ajaib. Kalau kata Pak Sapardi, agak mirip dengan cerita “The Killers” karya Ernest Hemingway.

Mbak Reda tidak perlu menulis: ‘Ia berlinang air mata’ atau ‘Langit sedang hujan sore ini’, cukup dengan dialog yang… kamu akan tahu kalau kamu baca, deh. Atau sebenarnya, memang itulah tujuannya: memberi ruang, biar pembaca menerka-nerka yang terjadi, berimajinasi, dan menarik kesimpulan sendiri-sendiri.

Sampul buku "Bisik-Bisik"
Buku ini bisa dibaca dalam tempo sesingkat-singkatnya!

Mengapa dialog semua?

Mungkin, dan hanya mungkin, kita sehari-hari terlalu banyak bercakap, lantang maupun berbisik, sebagai tanda bahwa kita ada. Bahwa ungkapan perasaan lebih sering dilontarkan dalam kalimat daripada dirasakan dalam diam—yang sebetulnya bagus, sih, daripada stres yakaan.

Mbak Reda juga bisa menggambarkan relasi kuat-lemah dalam dialog. Salah satu yang aku ingat betul menggambarkan relasi ini adalah cerpen berjudul “Skripsi” yang bercerita tentang percakapan seorang dosen pembimbing dan mahasiswa yang sedang menulis skripsinya.

“Menurut saya, untuk tingkatan S1, topik pilihan Anda itu terlalu berat. Pantasnya untuk S2,” (“Skripsi” hal. 46)

Ada yang pernah diginiin? (Loh, jadi curhat)

Cerpen lain yang mengena adalah percakapan suami dan istri. Reda membaginya ke hari Senin, Selasa dan seterusnya. Pembagian hari ini, mungkin dimaksudkan untuk memberi kabar bagi pembaca: mau hari apapun, semua sama!

Aku juga merekomendasikan teman-teman untuk membaca cerpen “Mong-Omong”. Selain itu, semua cerpen dalam buku ini enak dibaca siapa saja yang sudah akil balig. Bahkan ketika kita sedang malas baca buku, mudah untuk membacanya sampai selesai.

Jadi kira-kira, seperti yang Pak Sapardi coba sampaikan di kata pengantar: buku ini sebuah kumpulan cerpen, dan juga seni. Seni nguping dan menuangkan dalam tulisan. Menulis itu seni, memang.

Selain buku ini, Mbak Reda menulis buku berjudul Na Willa, serta Na Willa dan Rumah Dalam Gang. Doakan aku dapat rejeki, biar bisa membeli, membaca dan menulis ulasannya, ya!

Detil Buku:
“Bisik-Bisik” karya Reda Gaudiamo
diterbitkan oleh Eksotika Karyawibhangga Indonesia, Jakarta
Cetakan pertama Maret 2004
Editor: Sujiwo Tejo, Aldi Thiopradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: