Cerita,  Daily Life,  Sustainable Living

Tentang Yoga dan Hidup Sehat

Bagiku, belajar hidup yang sehat dan berkelanjutan sangat penting.
Ibuku terdiagnosis kanker payudara waktu aku SMP. Awalnya, hanya tumornya yang diangkat. Kemudian, karena kanker sudah menyebar, salah satu payudaranya diangkat. Ibu perlu menjalani kemoterapi, waktu itu di Semarang, selama 6-8x suntik (lupa detilnya) dan radiasi untuk menghilangkan sel kanker sepenuhnya dari tubuh ibu. It was hard on us, my sister and I, to watch her constantly lose hair and kept feeling tired. Tangan ibu menjadi kehitaman dan tubuhnya meng-kurus.

Lalu, setelah semua dijalani, ibu mulai bisa ceria lagi. Rambutnya tumbuh lebih lebat dan hitam dari sebelumnya (haha), dan tubuhnya kembali berisi tapi tetap lincah. Setiap 6 bulan sekali ibu wajib periksa kesehatan (yha kadang bandel juga sih tapi semoga aja tetap sehat). Pemeriksaan terakhir, ibu sehat wal afiat.

Belakangan aku tahu, budhe (kakak ibuku) juga didiagnosis terkena tumor payudara, beberapa tahun sebelum ibuku ketahuan punya kanker. Untungnya cepat ketahuan dan diangkat, jadi nggak menyebar. Yang baru aku tahu dari adikku, semua perempuan di keluargaku dianjurkan mengecek kemungkinan adanya tumor/kanker menjelang umur 30.

Aku mencari-cari sendiri, kira-kira apa yang meningkatkan risiko sel kanker berkembang di tubuh kita ya? Ada beberapa jawaban yang aku dapatkan: stres, kurang olahraga, pola aktivitas yang buruk, dan makan-minum tidak sehat. Hal-hal ini yang aku coba perhatikan sekarang berhubung selo.

Dulu, pertama kali aku dapat pekerjaan yang dibayar, aku bekerja sangat giat dan antusias (iyolah, dibayar). Lepas bekerja, aku akan mencari kegiatan yang bisa makin membuatku “pintar” seperti berdiskusi, baca buku, kegiatan komunitas, dll. Akhir pekan pun aku jarang pulang ke rumah dan beristirahat, kalau ini udah sejak kuliah sih, tapi mencari kegiatan. Aku merasa insecure bila aku nganggur sedikit.

Di periode itu, aku jarang terkena penyakit. Pekerjaanku pun menyenangkan. Aku tidak duduk di kantor seharian menatap komputer tetapi sekali-kali pergi ke lapangan, mengunjungi ibu-ibu dan sedikit ngegosip sama mereka berbincang. Namun, sekalinya sakit, sembuhnya lama! Kalau aku pikirkan lagi, aku di masa itu mirip dengan ibuku dulu: kami sama-sama pekerja giat, rasanya ada yang salah kalau nganggur sedikit saja.

Lalu, berkat beberapa kali sakit batuk-pilek-meriang, perlahan kusadari aku harus tetap menjaga kesehatanku. Aku harus menjaga makanku. Baru suatu ketika, aku lupa kapan, aku merasa sehat secara fisik tapi benakku tidak. Banyak hal yang berkelindan di kepalaku, harus ini harus itu, dan aku lumayan stres. Perlahan, aku sadar bahwa aku juga butuh memprioritaskan diriku sendiri, bahwa istirahat adalah bagian penting dari menjalani pekerjaan dan kehidupan.

Rupanya, aku bukan jarang terkena penyakit, tetapi aku sering tidak menghiraukan ketika tubuhku memberi sinyal untuk diperhatikan, untuk istirahat; dari kegiatan fisik dan dari terlalu banyak berpikir. Aku perlu olahraga.

Ketika aku resign, aku punya dua teman jogging, Ami dan Inez. Seiring waktu, keduanya mulai punya kesibukan sementara aku mager kalau jogging sendiri. Aku juga sedikit stres waktu itu karena terlalu banyak yang kupikirkan. Hmm, jadi coret dulu.

Aku tinggal di lingkungan yang banyak orang tua (dari anak-anak mereka) dan sedang lelah dengan pertanyaan: kerja dimana, kapan nikah, serta ajakan: tinggal di sini aja, daftar PNS aja. Pokoknya lagi masa-masa malaz menanggapi. Jadi aku mencari olahraga yang bisa dilakukan di rumah, sendirian, dan harus asyik. Paling pas adalah mengikuti “kelas” yoga dari YouTube.

Akhirnya aku mencoba yoga di rumah tahun 2017, dengan bantuan video-video YouTube dan Instagram. Setelah beryoga, aku biasanya craving buah dan sayur-sayuran. Entah apa penjelasan ilmiahnya, tapi begitulah yang kurasakan. Waktu itu bulan Maret, pertama kali aku mengikuti gerakan yoga untuk pemula yang nggak pemula pemula amat dari Boho Beautiful. Aku yoga-an di atas matras dadakan gitu, karpet ruang tengah ditumpuk selimut.

Setiap selesai satu sesi yoga, sekitar 20 menitan, aku akan minum air banyak-banyak secara otomatis. Akupun menemukan kanal YouTube Mbak Adriene dan ngikut program 30 Days of Yoga With Adriene. Hampir setiap hari aku beryoga. Ada beberapa hari yang tidak memungkinkan buat yoga, jadi selesainya molor sampai bulan berikutnya. Haha! But I felt great to accomplish a goal which I set for my-lovely-self, for my own sake.

source: Pinterest from http://mind-globe.com/relaxation-meditation-techniques/
Yoga erat hubungannya dengan meditasi

Yang paling menyenangkan adalah, instruktur YouTube akan selalu mengingatkan kita untuk menyayangi diri sendiri. Kalau ada gerakan yang belum bisa dilakukan, misalnya seplit yang full gitu, nah sebaiknya kita melakukannya sebisanya hari itu, tidak perlu dipaksakan tapi tetap diusahakan. Progress is what matters. Dari beryoga, aku juga perlahan-lahan lebih menyayangi diriku sendiri dan melihat potensi dalam diriku.

Berat badanku nambah 2 kg dalam waktu dua bulan, dan aku nggak merasa sesak atau sulit bergerak, sama sekali. Oh, sebelumnya aku pernah nambah berat badan tapi rasanya jadi susah bergerak karena sudah terbiasa dengan postur ini. Sepertinya tahun 2013-an. Aku berusaha mempertahankan berat badan itu tapi kemudian turun juga entah kenapa.

Yoga menuntunku ke gaya hidup para yogis yang (berupaya) sehat. Banyak referensi tentang makanan sehat mulai bermunculan dan terbukalah pintu penjelajahan hidup sehat. Awalnya belajar tarik napas-buang napas (pranayama), bergerak, jadi jembatan untuk menyayangi diri sendiri dan memahami batas diri.

Kalau ada yang membaca sampai sini, terima kasih ya! Adakah saran, pengalaman, atau diskusi yang berkenan dibagi? Tinggalkan komentar ya. Terima kasih sekali lagi. Sun dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: