Buku

Sukab in Wonderland

Sukab ternyata bukan Alice, jadi saya salah menulis judul tulisan kali ini. Ya gitu, memang sengaja sih.

Sukab adalah nama yang familiar, sangat familiar, bagi peminat karya tulisan Seno Gumira Ajidarma. Sebab, Sukab sudah memotong senja yang asli untuk diberikan kepada Alina, pacarnya, yang—katanya sih—paling manis, dan akan selalu manis. Mungkin juga Sukab pernah menjilat Alina sehingga dia tahu rasanya manis. Tapi gara-gara perbuatannya itu, gorong-gorong jadi gelap sekarang. Huh!

Perjumpaan pertama dengan tokoh Sukab membuat saya iyuh dengan kegigihannya mencari senja untuk pacarnya itu. Kenapa dia nggak melakukan hal lain yang lebih berfaedah, seperti, bantu Hachi mencari ibunya?

Saya kemudian menjumpai Sukab di cerita-cerita lainnya. Cerita pendek, yang umumnya menyentil realitas sehingga menjadi sebuah kritik dalam balutan yang elegan. Mbuh mau niatnya tidak elegan, pokoknya elegan menurut saya. Dia tidak melulu jadi tokoh utama yang nggantheng, kaya, cool dengan sisi lemah terhadap cewek memelas laiknya sinetron televisi. Itumah biasa. Lah si Sukab? Kalau nggak jadi pacar orang yang terbutakan oleh cinta, ya jadi om-om atau caleg. Segala peran mampu dia lakoni. Kurang apalagi cobak?

Sukab muncul di semua cerpen pada bab pertama. Akan tetapi, tidak pada bab kedua dan ketiga. Buku ini cuma tiga bab jadi jelas dia tidak muncul pada bab keempat. Ada apakah gerangan? Apakah Sukab ganti identitas karena dia ikut program pelindungan saksi dari sebuah kasus high profile, agar ketika bersaksi di pengadilan, kedua matanya masih utuh?*

Ternyata, jawabannya ada di kata pengantar halaman VIII: “Sangat mungkin Sukab hadir sebagai tokoh yang tak bernama dalam cerita, atau tokoh narator dalam cerita, atau bahkan Sukab keluar dari cerita dan sedang membaca cerita itu sendiri?”

Bukan katanya saya lho, itu katanya Teguh Afandi, penyunting fiksi Noura Books, yang di akhir pengantarnya dia menyelamati saya karena bisa bercengkerama dengan Sukab.

Dugaan saya, Sukab menyaru menjadi Si Tangan Cepat di cerpen Perempuan Preman yang paling saya sukai itu. Atau mungkin saja dia sedang menonton sepak bola di rumahnya ketika banjir tiba dan membawa jenazah tetangganya sampai entah dimana (cerpen Banjir).

Ah, siapa sih, Sukab ini, kenapa saya jadi memikirkan dia, toh di banyak cerita dia nggak kaya, bahkan cenderung kere. Kecil kemungkinan juga dia bisa nonton YouTube tentang sejarah Papua, apalagi pergi ke sana untuk memahami masalah kemanusiaan yang terjadi di sana. Dari segi interest kayaknya nggak cucok, deh. Tapi mengapa juga dia perlu repot-repot mengetahui semua ini?

Tentu, sebagai penggemar SGA meski bukan yang nomor wahid, saya selalu ingat dengan janjinya kepada entah-siapa: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.”

Cerpen, esai, foto esai; karya-karya SGA telah membuka mata saya terhadap kasunyatan di luar sana yang tak seindah dan segamblang berita-berita media arusutama. Dan, buku ini salah satunya. Saya tidak bisa langsung selesai membacanya, karena tentu saya imbangi dengan nyapu, ngepel, masak dan nyuci piring. Dan nyuci baju. Akhirnya selesai juga, sih. Worth the price gituh bukunya!

Melihat Dunia Sukab seakan kita berada di dunia lain, dunia cermin yang setelah diamat-amati ternyata ya refleksi dari dunia yang kita tinggali ini. Sama tegak, sama-sama semu, hanya sedikit lebih menarik. Mungkin karena sisinya tertukar.

Akhirul kalam, sekalipun saya ingin sekali menyatakan “Penulis buku ini mampu menampilkan ide-ide yang unik karena bukunya…”, saya meminta maaf atas kealpaan saya dalam menerapkan kaidah kebahasaan maupun menulis sesuai struktur resensi. Jikalau ada anak-anak sekolah yang sedang membaca ini, saya berpesan, adik-adikku, janganlah kalian jadikan tulisan saya sebagai contoh untuk membuat tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karena tulisan ini, kalau dijadikan tugas sekolah, pasti disuruh ngulang (kapan-kapan saya akan nulis tentang ini ya).

Inget ya, baik-baik di sekolah. Sekalipun kata bosnya Wati, “Belajar itu di sini Wati, di tengah kehidupan, bukan di sekolah!”

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

*Cerpen Saksi Mata, 1994 karya Seno Gumira Ajidarma

Detil buku:

Dunia Sukab: Sejumlah Cerita karya Seno Gumira Ajidarma
Pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, 2001 (yang saya baca diterbitkan oleh Penerbit Noura, PT Mizan Publika). Cetakan kedua, Februari 2017.

230+XVII halaman.
Harganya lupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: