Buku,  Rumpi

Sekolah Itu… (Sebuah Bukan-Review)

Apa arti sekolah bagi kalian?

Ada satu dialog dalam talkshow di Festival Minggir beberapa minggu lalu, yang membuatku teringat akan buku ini. Temanya tentang pendidikan kontekstual. Perwakilan dari Book For Mountain menuturkan alasan mereka mendirikan komunitas ini adalah karena kepedulian mereka akan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan para murid di sekolah. Buku teks yang dimiliki anak-anak sekolah di kaki Gunung Rinjani sama dengan buku teks anak-anak di kota besar, sekalipun mereka tidak menjumpai kereta api dan banyak hal yang ada dalam buku tersebut. Anak-anak dipaksa mengikuti pendidikan sesuai buku teks yang tersedia, yang dibagikan seragam untuk Indonesia yang beragam.

Aku langsung teringat Romo Mangun, buku karya Roem Topatimasang ini, dan satu film Thailand. Paling tidak, aku ingin membuat review salah satunya. Hati-hati ada unsur (sedikit) spoiler dan lebih banyak refleksi diri.

Sekolah Itu Candu~

Dulu pernah ada kakak senior gitu yang melontarkan wacana, “Kenapa sih kita perlu sekolah? Kalau mau jadi penjual gorengan, misalnya, kan di sekolah nggak diajarin buat goreng tempe.”

Kemudian salah satu temanku menjawab, “Kata papaku, sekolah itu membentuk kepribadian.”

Jawaban temanku dan jawaban-jawaban lain yang disebutkan tidak membuatku puas, tapi juga tidak membuatku berpikir lebih lanjut tentang arti sekolah. Hah, dapat nilai bagus saja susah, apalagi mikir yang begituan! Padatnya kurikulum dan les tambahan, serta kegiatan ekstra dari sekolah membuatku occupied dan menganggap pertanyaan itu masa bodoh. I’m just lucky enough to be at school anyway, why bother?

Sampai kelas 3 SMA, aku pikir, ya fungsi sekolah itu: dapat nilai, lulus, kuliah, lulus, bisa dapat kerja, dapat uang, hidup. Kepribadian yang baik adalah bonus. Aku mati-matian agar bisa lulus UN dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang bagus. Tetapi semuanya berubah ketika…negara api menyerang. Enggak lah, semua berubah ketika aku mengenal kebebasan dan kebutuhan menganalisis berbagai fenomena. Alias masa-masa kuliah.

Kuliah bukan hanya berarti kebebasan berpakaian. Itulah pintu gerbang mengenal kebebasan berpendapat yang setingkat lebih tinggi dibanding manut-manut bae, dimana jawaban atas segala sesuatu tidak ada yang saklek. Aku yang tidak mengenal kebutuhan akan berpikir kritis sebelumnya, perlahan haus akan pengetahuan dan diskusi. Bisa dibilang aku ini produk didikan sekolah yang ada masa kaget akan kuliah, ya bisa dibilang. Seperti tulisan di bagian belakang buku ini:

 Paling sedikit duabelas tahun dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekadar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain.
Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.
Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?
Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka terutama yang masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!”

Dalam tulisan ke-8 berjudul “Robohnya Sekolah Rakyat Kami”, Pak Roem menuturkan dengan padat kisah sebuah sekolah rakyat, yang bertransformasi menjadi “sekolah” sebagaimana “sekolah” dengan ciri yang diamini oleh pemerintahan kala itu: Bangunan bertembok dengan ruang-ruang kelas yang berisikan papan tulis, meja dan bangku, dimana guru mengajar di depan kelas dan anak-anak mematuhi petunjuk guru. Tidak ada lagi kerja bakti musim panen raya setiap akhir semester. Jadwal libur dan tipe pembelajaran pun diseragamkan. Anak yang kelihatan melongok jendela sedikit dihukum.

“Apa sekolah macam itu masih ada?”

Di bab ini pula aku pertama kali mendengar nama Pak Paulo Freire dimensyen.

“Anak-anak di kawasan Amazon kini bernasib sama dengan pepohonan hutan di sekitar mereka: ‘digunduli’ secara sistematis!”

“Loh, kok bisa?” tanyaku.

“Anak-anak sekolah dan orang dewasa buta-huruf di Brazil disuruh menghafal pelajaran dan bahkan kata-kata atau istilah-istilah asing yang mereka tak ketahui makna dan maksudnya, bahkan tak ada kaitannya sama sekali dengan kenyataan kehidupan sehari-hari, kebutuhan, dan lingkungan hidup sekitar mereka,” katanya.

Sejenak aku teringat tentang Sokola Rimba karya Butet Manurung, sebuah buku yang menuturkan kisah Butet mendirikan sokola untuk anak-anak Suku Anak Dalam di Jambi. Baru mau aku tanya apa pendapatnya tentang sekolah rimba, Pak Roem menyuruhku membaca buku karya Freire, Pedagogy of The Opressed (1978) atau terjemahannya Pendidikan Kaum Tertindas (1983) dan Cultural Action for Freedom (1983).

Banyak sih, buku rekomendasi Pak Roem yang dituliskannya dalam bukunya. Ha, bingung to! Untung ini semua cuma imajinasi, jadi aku nggak perlu buru-buru baca karena takut Pak Roem keburu pergi.

Teringat sebuah diskusi biasa di hari biasa bersama seorang teman via Line, tentang pendidikan kontekstual (yang pada saat itu kita nggak tahu sih kalau yang kita bicarakan itu namanya pendidikan kontekstual). Temanku melontarkan sebuah perenungan, “Chat, kita bisa diskusi kayak gini, menyadari ada yang “salah” ini, tapi kita ini produk dari sistem pendidikan yang kita nilai buruk itu loh.”

Kami ketawa-ketawa aja. Kalimatnya mengiang di benak aku untuk waktu yang lama. Memang, tidak ada yang 100% buruk dan 100% baik. Tapi untuk sampai ke pemikiran seperti ini, bukankah itu suatu pengalaman yang sangat personal, dan artinya ada hal baik dari pendidikan yang kuanggap buruk dan terlalu kompetitif itu. Dan akupun perlu menjadi “anak kuliahan” yang sementara waktu terkungkung dari dunia luar itu untuk sampai pada pemikiran kritis ini. Untuk menjadi anak kuliahan di PTN yang “baik” ini (oke soal keburukannya jangan kita bahas dulu yak), sekolah itulah yang memaksaku untuk belajar mati-matian. Dan dari perjalananku itulah rasa penasaran muncul, was wes wos membawaku ke buku Pak Roem dan peristiwa-peristiwa mengenainya.

Ah, pendidikan. Mengapa aku sempat menyamakannya dengan sekolah? Pendidikan, itulah yang terjadi kepadaku dan mungkin kamu juga. Betapa beruntungnya kita, bisa menentukan pendidikan seperti apa yang ingin kita jalani. Betapa beruntungnya memiliki kedaulatan untuk memilih selalu di jalan kritis. Betapa beruntungnya kita yang terpapar diskusi-diskusi sehat dalam beragam ruang dan partisipan. Betapa beruntungnya kita yang dapat melatih diri untuk terbuka terhadap kritik dan kerja sama, bukan berusaha tampil selalu sempurna apalagi jadi juara yang entah untuk apa. Juara hanya untuk pertandingan, kompetisi, sedangkan hidup adalah penyatuan kekuatan. Ah, betapa beruntungnya.

Tahun 1984, Pak Roem menulis, “Maka, sangat tidak mengherankan jika upaya pembaharuan sistem pendidikan nasional di Indonesia terus berputar-putar di sekitar permasalahan yang itu-itu juga: bagaimana menyesuaikan perangkat teknis persekolahan dengan kemajuan manajemen dan teknologi modern, bukan bagaimana mempertanyakan kembali secara kritis hakikat eksistensi sekolah itu sendiri yang kini semakin digugat luas? Pemaknaan sistem pendidikan pun sebatas pada ‘sistem persekolahan’.”

Pak Roem seakan bilang lewat buku ini, sekolah itu ya sekolah, yang seharusnya memfasilitasi kita untuk berpikir kritis, bukannya jadi anti kritik!

Sekian dan mohon maaf jikalau kurang komprehensif apalagi ilmiah. Sebaiknya teman-teman membaca bukunya, karena aku yakin banyak bagian penting yang tidak tersebut dalam tulisan ini. Beneran, deh!

Judul Buku: Sekolah Itu Candu
Penulis: Roem Topatimasang
Cetakan ke-13, Maret 2018. Cetakan pertama November 1998.
131 halaman. Yogyakarta: INSISTPress.

Maaf lagi, aku nggak urut nulis identitas buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: