Buku,  Ulasan

Review Buku Eating Clean

“Makan yang banyak biar gemuk,”

Halo, pembaca dari segala ukuran badan! Kali ini aku mau mereview buku Eating Clean karya Inge Tumiwa-Bachrens. Memanfaatkan momen harbolnas November 2018 silam, aku membeli paket buku Eating Clean di Tokopedia. Setelah masuk antrean baca, akhirnya hari ini kelar juga!

Kalimat pembuka tadi adalah yang biasanya orang ucapkan waktu ketemu aku. Mungkin kedengarannya biasa ae, tapi familiar nggak sih dengan kalimat yang sejenis tapi dibolak-balik ini: “Kok gendutan? Diet shay, makannya dikurangi.” What the *&()#&@^!

Kalimat-kalimat seperti ini membuka cakrawalaku tentang body shaming, yang tidak hanya menyerang mereka yang bertubuh gemuk tapi juga yang kurus, bahkan yang idealpun digituin kok. Kadang aku anggap angin lalu, kadang juga terasa gemas, pengen tak semprot ngono lho, “Emangnya kalo gemuk njuk sehat po?”

Dulu aku kadang mengomentari tubuh teman-temanku juga. Yap, sudah membudaya, dan secara nggak sadar kita mempraktikkannya. Bagi orang-orang tua terutama, body shaming tidak dianggap sebagai ketidakwajaran, dan sering jadi senjata buat basa-basi (yang basi). Untung sekarang udah sadar, setelah mengendus bau minyak kayu putih banyak belajar. Maaf ya teman-teman, dan semoga tidak terulang kembali.

Sampai mana tadi? Oh iya, kalau SAYA nanti jadi gemuk, orang-orang yang sama yang nyuruh saya gemuk itulah, yang hampir 90% akan berujar, “Gendut banget ayok diet biar kurusan shay.” 10%-nya berujar dalam hati alias mbatin.

Sejak berkenalan dengan yoga, entah kenapa aku makin memperhatikan makananku, gaya hidupku. Apa yang aku masukkan dalam tubuhku akan mendukung kehidupanku. Aku semakin mindful dalam berkegiatan, makan, dan memilih barang yang aku gunakan dan simpan. Berniat menjadi sehat, aku mulai mempelajari jenis-jenis makanan yang diperlukan tubuh dan bagaimana memprosesnya.

Aku tidak memilih suplemen untuk meningkatkan berat tubuhku, karena, ya mereka suplemen, their effect is temporary, plus aku percaya kalau sesuatu yang dijalankan pelan-pelan efeknya akan lebih panjang, bahkan selamanya. Nah, buku ini tuh kayaknya pas!

Aku mulai tertarik dengan buku Eating Clean ini karena seseorang di instagram posting tentang buku ini (aku lupa siapa). Isinya sudah bisa ditebak sih, tentang pola makan yang sehat. Rupanya, buku ini berawal dari project pribadi Mbak Inge untuk dia dan keluarganya.

Buku ini ditulis dengan bahasa sehari-hari, mudah dimengerti. Mbak Inge menulis seperti bercerita kepada kita semua. Dibuka dengan latar belakang mengapa Mbak Inge menerapkan pola makan eating clean untuk keluarganya, kemudian kita menelusuri satu-satu langkahnya, dengan bahasa yang ringan pula.

Sebenarnya, aku mengira ini buku berisi penjelasan ilmiah mengenai nutrisi bahan makanan dan makanan sehari-hari, kemudian hubungannya dengan gaya hidup. Yha pokoknya yang banyak tabel dan grafik gitulah. Tapi ternyata lebih mirip jurnal pribadi, dan aku bersyukur karenanya.

Mbak Inge menyarankan kita untuk makan makanan organik, tetapi sebaiknya kita mengolah sendiri makanan kita. Makanan yang dilabeli “organik” belum tentu organik dan diproses dengan benar.

Salad Milas

Waktu baca bagian ini, aku teringat pertemuan bulan Desember dengan temanku Nada yang kzl dengan label organik di supermarket. “Ah kuwi ketoke mung akal-akalan ben regane larang!” (Ah, itu sepertinya hanya akal-akalan biar harganya mahal). Dan saya setoedjoe. Sayur, buah dan daging dari pasar memang terbaeq. Sehat dan hemat apalagi buat penganten baru.

Ada bagian dari buku ini yang mengatakan begini:
Penelitian menyebutkan, anak yang aktif di masa kecilnya akan tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang aktif pula dan memiliki risiko terkena penyakit kronis yang lebih rendah.

Untuk itu aku mau berterima kasih kepada lingkungan desaku saat kecil. Berterima kasih kepada orang tuaku, tetanggaku, teman-temanku, dan guru-guru SD-ku.

Waktu kecil, aku dan adikku suka “berpetualang”. Kami akan pulang lewat jalur yang berbeda atau sengaja main ke sawah sejenak sebelum sampai rumah. Aku ingat dimarahi sampai dihukum setelah tiba di rumah pukul 12 siang (waktu itu aku kelas 3 SD, harusnya sampai rumah jam 10), gara-gara hang out bersama adik dan temanku di rerumputan dekat kolam-kolam ikan besar, sekitar 5 menit jalan kaki dari rumah.

Life felt tough for the little me, getting scolded almost everyday for drifting and wandering around the village, with my sister. But looking back, those times were our wonderful years. Though I think my parents’ decision would seem a bit crazy for urban people nowadays. I mean, who would let their children roaming around paddy fields, playing Jiraiya with some REAL wood stick (made from Sonokeling branches. Yes, we made them ourselves. My neighbor, I mean, aku terima jadi aja).

Ada sebuah mata air yang dijadikan kolam renang, namanya Sendang (baca e-nya seperti e di tendang). Warga sekitar memanfaatkan Sendang untuk mengambil air bersih, mencuci di pinggirnya (yang dekat dengan sungai), mandi, berenang, atau sekadar main bersama keluarga. Fungsi Sendang yang paling penting adalah sumber air bersih dan irigasi. Kadang kami main ke Sendang, dan aku percaya dulu rambutku lurus kinclong kayak Gadis Sunsilk gara-gara keramas di situ.

Tapi kami lebih sering menghabiskan sore bermain badminton di gedung olah raga sebelah rumah. Bergantian dengan bapak-bapak polisi dan tentara, yang juga mengajari kami mengaji sesekali. Weits masa kecil aku bahagia banget! *berkaca-kaca

Mbak Inge dalam buku ini menceritakan, pengalaman mengubah pola makan tidak mudah, terlebih karena mengubah pola makan berarti juga mengubah pola hidup. Secara pribadi pun, badan awalnya akan merasa lemas, tidak nyaman dan banyak keluhan lain. Hal ini kemungkinan diakibatkan pencernaan kita sedang menyesuaikan diri dengan pola makan sehat, karena tidak terbiasa mendapat nutrisi, air, kalori yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Tadinya makan sembarangan, sekarang lebih cermat dan teratur. Tadinya sering jajan di luar, sekarang lebih picky soal jajanan, lebih banyak makan di rumah dan tentunya ada risiko digoendjingkan, dipandang aneh oleh teman-teman atau kerabat sendiri karena sering menolak ajakan makan di luar yang tidak sehat. Iyasih, jadi cups dan soms gitu kayaknya. “Ih diajak ngemil gorengan aja ogah!” Walaupun aku kadang makan gorengan, dan sekali-sekali makan pasta yang banyak bahan pengawetnya. Sekali-sekali aja tapi, berhubung uang terbatas.

Aku flashback lagi di jaman dulu (sok tua deh), makanan(ku) memang nggak se-komersil sekarang ini. Apalagi makanan olahan. Bayam aja dulu ngambil dari pohonnya, sekarang pergi ke pasar aja males. Oke ini masalah individunya sih, sekalipun lingkungan juga berpengaruh. Selama tinggal di Waingapu, aku tergolong rajin beli bahan makanan di pasar. Kalau tidak begitu, kami akan jajan, dan uang bulanan kami akan habis sebelum tanggal 21 *cry

Oke, kesimpulannya buku ini menarik untuk dibaca. Penyemangat yang pas untuk teman-teman yang sedang berusaha hidup lebih sehat. Semua langkah dalam buku ini dituturkan dari pengalaman Mbak Inge yang hidup di kota. Bagaimanapun juga, penerapan eating clean tidak bisa sama antara satu keluarga dengan lainnya. Pengetahuan tambahan di buku ini sangat bermanfaat, tetapi mari kita sesuaikan dengan kondisi kita masing-masing.

Kalau boleh aku nambahin, saran dari Sadia di salah satu video Pick Up Limes tentang menjadi vegan adalah: It’s okay not to be perfect. Jangan memaksakan diri, pelan-pelan saja seperti Kotak dan seiring waktu kita akan berkembang. Misalnya kita belum bisa full makan sehat seharian, ya coba-coba dulu aja sekali menu sehat. Atau sekali-kali makan es krim Massimo. Bagiku, progress adalah hal yang indah dan menyenangkan.

Meskipun buku ini memang ditulis dengan gaya mirip jurnal pribadi, ada daftar pustaka yang bisa dijadikan rujukan, seperti buku The Complete Idiot’s Guide – Eating Clean dan Eating Clean For Dummies, atau Fast Food Nation. Kalau ada yang baik hati mau mendonasikan buku semacam itu buat saya, dengan bahagia akan saya baca dan buat reviewnya.*kode

Eating Clean: 20 Langkah Mudah Membiasakan Makan Sehat
Oleh Inge Tumiwa-Bachrens
PT Kawan Pustaka, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: