Nonton,  Ulasan

Review Because This is My First Life (2017)

Drama ini tayang (lagi) di tvN Asia bulan ini, yay!

Aku sudah pernah nonton Because sebelumnya. Ini adalah drama komedi romantis yang aslinya tayang Oktober – November 2017 di tvN, lalu ditayangkan lagi oleh tvN Asia saat ini dengan judul Because This is My First Time. Aku suka banget sama drama ini.

Karena ini kali pertama aku…

[Tulisan ini mengandung unsur SPOILER, bagi pembaca diharapkan kebijaksanaannya]

Yoon Ji-Ho sudah jadi asisten penulis naskah drama selama 5 tahun. Suatu ketika, setelah lima bulanan tinggal di rumah penulis yang diasistenin, dia kembali ke rumahnya. Rumah di Seoul yang dia tinggali beberapa tahun ini bersama adiknya yang sedang kuliah. Pulang-pulang, dia mendapati adiknya ternyata sudah menikah dengan seorang perempuan yang sedang hamil anak mereka. Jelaz dia cepat-cepat pergi biar nggak tinggal bareng mereka, sekalipun istri adiknya tidak berkeberatan tinggal bersama Ji-Ho.

“Kalau adikku pergi, tinggal kita berdua di rumah. Apakah aku akan tega membiarkan seorang wanita hamil mengerjakan tugas rumah? Adikku pasti akan menyuruhku menjagamu. Jangan buat aku jadi orang yang jahat,” katanya.

Make sense sih.

Jadi, berbekal uang dari ibunya (yang cuma sedikit) dia mencari tempat tinggal sementara di Seoul. Ji-Ho mendatangi agen real estat yang mencarikan tempat tinggal dengan uang deposit kecil banget. Tempat-tempat yang ditawarkan ke Ji-Ho selalu memiliki masalah mendasar dan nggak layak untuk tempat tinggal. Bocor lah, nggak ada jendela, dst dst.

Sampai suatu ketika, temannya menelepon dan memberi kabar gembira untuk kita semua. Temannya teman pacarnya teman Ji-Ho menawarkan untuk share house tanpa deposit. Jadi kayak punya housemate gitu. Tinggal bayar uang bulanan. Terang si Ji-Ho langsung nerima setelah dia dengar kalau rumahnya itu townhouse alias mevvah.

Kitty adalah tokoh sentral dalam drama ini!

Awalnya dia nggak tahu kalau pemilik rumah (yang masih utang) ini laki-laki, karena namanya Nam Se-Hee, seperti nama perempuan. Se-Hee juga adalah nama “bos” Ji-Ho yang terakhir, penulis perempuan paruh baya gitu. Waktu pertama kali datang ke rumah, dia bertemu kucing imut. Rumahnya pun bersih. Semua yang bisa diasosiasikan dengan perempuan di masyarakat kita lah. Foto yang ditunjukkan pun foto satu kantor yang ada perempuannya. Sedangkan, Se-Hee tahunya Ji-Ho ini laki-laki, karena namanya persis seperti nama seniornya waktu dia ikut wajib militer. Plus Ji-Ho suka Arsenal. Dalam benak Se-Hee, Ji-Ho adalah laki-laki.

Selama semingguan tinggal di rumah itu, mereka nggak saling bertemu. Se-Hee sudah berangkat kerja ketika Ji-Ho bangun tidur. Ji-Ho sudah tidur ketika Se-Hee pulang karena lembur terus. Sampai kemudian suatu weekend mereka bertemu, dan dimulailah cerita mereka tinggal bersama.

Intinya kemudian mereka menikah. Se-Hee diminta menikah sama orang tuanya. Dia butuh orang yang bisa mengurus rumah dan kucingnya plus bayar sewa, sedangkan Ji-Ho butuh tempat tinggal. Pas sudah. Hanya saja, ternyata menikah tidak hanya soal kedua mempelai, tapi juga keluarga dan teman-teman mereka.

Yang aku suka, ketika teman-teman dan orang tua mereka mengetahui mereka bukan menikah karena cinta, reaksinya nggak kayak di telenovela, eh, drama-drama lainnya. Mereka memaklumi bahwa memang alasan menikah tidak melulu karena cinta.

Alasan utama kita nikah bukan karena cinta, tapi kita saling membutuhkan

Jadi drama ini bukan sekadar drama kucing-kucingan agar rahasia pernikahan tertutup rapat, tapi tentang bagaimana sebenarnya marriage life itu. Apa risikonya, apa unyu-unyu nya, apa yang perlu dikorbankan dan bagaimana mereka belajar untuk mengatasi permasalahan bersama.

Kita tidak hanya bisa melihat dari perspektif Ji-Ho dan Se-Hee yang penokohannya akrab dengan sifat-sifat manusia biasa, tetapi juga dari teman-teman mereka. Di drama ini ada tiga pasangan sentral.
Satu, Ji-Ho dan Se-Hee, menikah kontrak dua tahun, tidak diawali dengan cinta dan tidak ada hubungan seks selama menikah.
Dua, Ho-Rang dan Won-Seok, tujuh tahun pacaran, tinggal bersama, Ho-Rang ingin dinikahi tapi inginnya Won-Seok yang inisiatif (asli ini lucu dan miris at the same time).
Tiga, Su-Ji dan Sang-Goo, pasangan kasual, kadang ketemua buat having sex (dengan pengaman pastinya), pacaran kontrak. Mereka yang pertama nemu kontrak Se-Hee dan Ji-Ho karena surat kontraknya ketuker sama punya mereka.

Su-Ji dan Ho-Rang adalah teman Ji-Ho dari SMA. Sejak dulu, Su-Ji bercita-cita mau jadi CEO, sekalipun di usianya yang 30 ini ia justru menjadi orang yang bekerja keras demi CEO tempat ia bekerja. Ho-Rang sejak dulu ingin jadi ibu dan istri yang baik. Ia sudah tujuh tahun berpacaran dengan Won-Seok tapi tidak kunjung dinikahi. Won-Seok pun merupakan tokoh yang menarik. Demi bisa meminang Ho-Rang secepatnya, ia mengubur impiannya mendirikan perusahaan start-up sendiri dan bergabung di tempat kerja Se-Hee. Satu tokoh yang sepertinya tidak terlalu bermasalah adalah CEO Se-Hee dan Won-Seok, Ma Sang-Goo. Dan aku suka bagaimana dia berusaha menjadi lelaki yang baik dan peka terhadap pelecehan seksual verbal yang dialami Su-Ji di tempat kerja.

Ada banyak hal yang aku sukai dari film ini: alur ceritanya, dialog, musik, dan penokohannya. Tidak ada satu tokohpun yang digambarkan 100% antagonis atau 100% protagonis. This is my kind of drama. Aku dan teman-temanku sempat membandingkannya dengan Cheese in The Trap. Dulu kami sepakat CITT lebih bagus, tapi setelah aku nonton lagi, hmm sepertinya aku berubah pikiran. Di usiaku yang sekarang, entah kenapa aku merasa Because This is My First Life lebih ngena.

Memasuki episode-episode belasan, menurutku alur ceritanya semakin dipercepat untuk menuju ke episode akhir. Sedikit nggak nyaman sih, tapi untungnya drama ini nggak kehilangan trek-nya atau kemudian menyuguhkan cerita yang nggak masuk akal, misalnya ternyata mereka berasal dari kakek yang sama lalu tidak boleh menikah, hah capedeh. Jalan cerita tetap mulus. Dan, ini yang penting menurut aku, semua tokoh menyelesaikan masalah mereka masing-masing.

Ada (banyak) drama, yang menyajikan cerita seperti ini. Si A dan si B adalah sepasang kekasih. Si A dan Si B dirundung perselisihan, kesalahpahaman, kemudian berkonflik, lalu berakhir dengan Si A mengusir Si B. Si A ingin berpisah, tetapi kemudian tiba-tiba dia bertemu dengan Si C (seorang yang pernah mengobrol dengan B, kebetulan dia bertemu dengan A, entah muncul darimana) yang berkata kalau Si B sebenarnya baik dan menyayangi Si A sepenuh hati. Si A pun berubah pikiran, menjemput Si B, meminta maaf dan rujuklah mereka kembali.

Dalam cerita ini, alih-alih menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan berdiskusi, bertatap muka dan mencari solusi bersama, justru Si C-lah yang menyelesaikan masalah kedua orang itu. Si C lho, yang bahkan Si A aja ketemu baru sekali. Oke ini sebenarnya aku ngarang cerita berdasarkan suatu film gitu sih. Tapi alur cerita seperti ini kedengarannya familiar kan? But why why why why why, instead of solving your problem by yourself, you need to wait for someone to intervene?

That might happen in some cases, but it only sounded supersweet because it seems like God has planned it all. While eventually, that’s not the case. Face your own problem, pals! Even I believe God will only give us way ONLY after we do something, praying and keep trying. See, that’s my problem with melodrama (Abaikan kalau mulai kedengeran ngaco ya).

Memorable Scenes

Banyak adegan yang memorable. Semuanya menarik. Yang lucu-lucu juga banyak, bikin ngakak banget. Karena aku anaknya mellow, aku cerita beberapa adegan ini ya.

1. Ji-Ho pasti akan memilih jalan yang membuatnya bahagia.

Awalnya ibunya Ji-Ho cuma nanya kenapa Se-Hee kurus, suka makanan apa biar dibikinin. (This kind of body shaming is actually cute and sincere)

Kata Se-Hee, “Ibu, Ji-Ho adalah wanita yang kuat. Dia bisa membuat pilihan demi dirinya sendiri. Dia tidak melakukan hal yang membuatnya tidak bahagia. Karena itu, Ji-Ho pasti akan memilih jalan yang membuatnya bahagia.”

Dia berhenti sebentar, “Dan aku tidak akan menjadi menghalanginya melakukan hal yang dia inginkan selama aku menikah dengannya. Maafkan aku. Aku tidak bisa berjanji membuatnya bahagia atau melindunginya. Hanya itu yang bisa aku janjikan kepada Ibu.”

Ibunya Ji-Ho tersenyum, “Terus? Itu hal yang benar untuk dikatakan. Hanya karena kalian menikah, bukan kewajibanmu untuk membuatnya bahagia. Siapa yang bisa membuat orang lain bahagia? Jaman sekarang ini susah buat orang bahagia, jalan terbaik adalah tidak menjadi penghalang kebahagiaan orang lain. Itu lebih baik daripada mengumbar janji kosong.”

Terus Se-Hee dan Ibunya Ji-Ho sama-sama senyum.

“Lain kali ibu bikinkan sup ular, ya.”

“Snake soup is delicious, you should try it.”

2. Aku ingin seperti orang-orang lain

Suatu malam, Ji-Ho dan Ho-Rang berjalan-jalan setelah bertemu teman-teman SMA mereka. Ji-Ho bertanya pada Ho-Rang, “Mengapa kamu begitu ingin menikah?”

Ho-Rang berhenti di depan etalase toko dan menatap dua manekin, satu mengenakan pakaian merah terang, satu lagi memakai pakaian gelap. Kira-kira ringkasan percakapannya begini.

“Sewaktu aku muda, aku menyukai pakaian dengan warna terang. Semakin tua umurku, aku lebih memilih pakaian dengan warna netral atau gelap,”

“I want to wear that black coat,”

Ho-Rang menghela napas, “Ibuku punya teman seorang wanita yang karirnya gemilang, ia dikagumi perempuan-perempuan di sekelilingnya. Tetapi setiap ibuku dan teman-temannya berkumpul, mereka tidak mengajak wanita ini, karena ia berbeda.

“Aku ingin memakai baju yang berwarna gelap yang cocok dimana saja. Aku ingin seperti orang-orang lainnya. Berbicara tentang kehidupan pernikahan dan anak-anak. Tidak beda,” katanya.

Setelah mereka berpisah, Ji-Ho pun bernarasi sambil muncul gambaran masa lalu mereka. Ho-Rang adalah orang yang cocok memakai pakaian terang dulunya. Sekarang, ia menginginkan pakaian yang netral, yang tidak berbeda dari orang kebanyakan. Ia ingin menjadi bagian dari orang-orang itu.

Entah kenapa pas ini aku kayak berkaca-kaca gitu.

3. Kamu nggak berpikir ini sad ending, kan?

Ada juga dialog yang bikin aku (gatau kenapa) senyum-senyum. Misalnya ketika Ji-Ho ngobrol sama Jung-Min kalau dia mau cerai sama Se-Hee. Jung-Min bilang, “Sayang sekali, aku ingin kalian happy ending.”

Terus Ji-Ho menatap Jung-Min kayak heran gitu, “Loh, kamu nggak berpikir kalau bercerai itu bakal sad ending kan? Hidup nggak berhenti di situ. Aku kira kamu orang yang keren.”

Kena deh aku!

Hihihi, indeed, hidup tidak berakhir dengan perceraian. Bagi sebagian orang bisa juga itu adalah starting over.

4. Aku terjatuh, tapi kalian malah menyuruhku untuk terus berjalan sambil berdarah-darah.

Bagian yang bikin sebel? Ada banget! Ceritanya Ji-Ho yang dijadikan penulis naskah utama di drama baru, sempat berselisih dengan penulis seniornya mengenai alur cerita (yang diubah oleh si penulis senior jadi drama anak CEO – keluarga hilang – cinta terlarang – biasa itulah). Nggak disangka, ternyata teman satu timnya datang ke flat tempat Ji-Ho tinggal sementara dan dalam keadaan mabuk melecehkannya karena frustasi. Physical sexual harassment. Mau diperkosa gitu. Ji-Ho pun “melarikan diri” dari kolega-koleganya karena dia dilecehkan.

Kemudian Penulis Senior tadi membujuk Ji-Ho untuk kembali join di tim drama tersebut, sekalian ngajakin Ji-Ho minum bareng. Ngga tahunya di tempat minum ada Pak Sutradara sama Si Pelaku pelecehan itu. Si Pelaku seolah-olah minta maaf gitu, dibacking Sutradara sama Si Penulis Senior. Aku bilang “seolah-olah” karena sebenarnya dia tidak mengakui secara gamblang kalau yang dilakukannya itu sexual harassment. Pokoknya seolah-olah dia yang lemah lah disitu, dan Si Sutradara sama Penulis Senior katanya ingin “menolong” menyelesaikan permasalahan mereka.

Mbok pikir pelaku pelecehan seksual ki patut dibela??

“Aku terjatuh. Kalau kalian berniat menolong, seharusnya kalian membawaku ke rumah sakit. Tapi apa yang kalian lakukan? Aku terjatuh, tapi kalian malah menyuruhku untuk terus berjalan sambil berdarah-darah. Apakah ini yang namanya menolong?”

Habis bilang gitu si Ji-Ho kemudian disudutkan, katanya dia lebay banget menempatkan dirinya sebagai victim. Kata Si Sutradara, kalau cuma karena hal begini aja Ji-Ho nggak bisa kompromi, dia nggak bakal bisa bertahan di industri drama. Mendengar itu, Ji-Ho saat itu juga mendeklarasikan bahwa dia nggak bakal nulis drama lagi. Dia keluar dari restoran itu sambil nahan air mata.

Good job, Ji-Ho! Zbl banget aku sama mereka. But then, that might be culture playing its role. Seperti verbal harassment yang dilakukan kolega Su-Ji kepadanya bertahun-tahun (akhirnya Su-Ji juga melawan, btw), yang dianggap biasa oleh sebagian orang.

Oh satu lagi hal menarik dari drama ini. Ji-Ho punya hobi bersih-bersih setiap dia kesulitan menemukan ide cerita untuk naskah drama pertamanya.

Se-Hee butuh Ji-Ho buat mengurus rumahnya. Ji-Ho butuh (rumahnya) Se-Hee, buat melampiaskan hobinya bersih-bersih.

Akupun menerapkan strategi Ji-Ho di Magelang. Bedanya, rumah sini tetap berantakan sekalipun sudah kubersihkan.

Pesan moralnya, Lee Min-Ki udah tua tapi tetep ganteng.
Dan hidup ini memang hanya sekali, mari kita nikmati, beranikan bicara, dan tulus membuat karya.

Selamat menonton!

Because This Is My First Life – 2017
(이번 생은 처음이라 – Ibeon Saengeun Cheoumira)
Lee Min-Ki (Nam Se-Hee), Jung So-Min (Yoon Ji-Ho)
Ditulis oleh: Yoon Nan-Joong
Sutradara: Park Joon-Hwa
16 Episode; South Korea; aired at tvN;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: