Buku,  Ulasan

Erampok: Pembangunan Berkelanjutan ala Suku Asmat

Tanah adalah ibu yang melahirkan dan mengasuh manusia.

Sepenggal kalimat di salah satu paragraf dalam buku ini memesona saya. Bagi masyarakat adat, khususnya Papua, tanah memang sangat sakral kedudukannya, sehingga tidak bisa sembarang orang membeli-menjual-memanfaatkan tanah mereka. Segala urusan pertanahan dilaksanakan dengan tata cara hukum adat.

Erampok menceritakan tentang perjalanan pemberdayaan masyarakat di Asmat, yang bertajuk Asmat Makmur. Difasilitasi oleh Yayasan Satunama, selama tujuh tahun proyek pemberdayaan itu telah melahirkan penggerak-penggerak lokal dengan bermacam karya mereka. Kehidupan keluarga Pa Pius dan orang-orang sekitarnya menjadi pusat dari cerita ini, meskipun diceritakan juga mengenai kondisi masyarakat di kampung lain.

Penggerak lokal dari Asmat diberi keterampilan untuk mengolah kebun/ladang dan kemudian menerapkannya di kampung mereka. “Erampok” dalam bahasa Asmat berarti “apotek hidup”. Ilmu-ilmu lain dibagi lalu dipelajari bersama oleh masyarakat, dengan semangat membangun Asmat di masa depan yang mereka inginkan. Asmat yang makmur, dengan nilai lokal yang bertahan dari serbuan segala-yang-berbau-modern saat ini.

Membaca buku ini, saya merasakan perbedaan yang begitu jauh antara konsep kesejahteraan menurut orang “kota” dengan kehidupan Asmat yang (lagi-lagi menurut saya) sustainable, menggunakan sumber daya sesuai kebutuhan. Karena Tuhan sudah menyediakan secukupnya untuk manusia manfaatkan.

Menarik, karena ini adalah laporan program yang dinarasikan dengan elok oleh Ruri. Saya membaca buku ini dan membayangkan kehidupan Asmat yang begitu sederhana tetapi sarat makna. Sebuah Desa Ats, sebuah Papua, yang membuat Ruri jatuh cinta, digambarkannya dengan berbagai detail yang membuat penasaran.

Tidak salah apabila Indah Darmastuti mengatakan dalam pengantar buku ini, “… Asmat terlalu kaya ketika dirangkum dalam sebuah buku. Masih banyak yang perlu ditilik ke dalamannya dan buku ini menjadi pintu untuk masuk ke sana.”

Yogyakarta, 26 Februari 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: