Travel

Road Trip NTT (bagian 3) – Halo, Labuan Bajo!

Hujan rintik dan jalanan becek menyambut aku, Firman dan Supra setiba di Labuan Bajo. Pembangunan sedang berlangsung di muka pelabuhan—sepertinya akan ada terminal besar di Pelabuhan Labuan Bajo—yang berisik sekali. Kami melewati jalan kecil keluar dermaga feri, menuju jalanan paling ramai di Kecamatan Labuan Bajo: Jalan Soekarno Hatta. Sepanjang jalan itu adalah perpaduan vibe Ubud, Kuta, dan Gili Trawangan. Banyak pejalan, banyak kendaraan bermotor, banyak penjaja tur LOB dan hostel-hotel-restoran.

Kami mulai menimbang-nimbang akan menginap di mana, sambil melihat aplikasi, sambil melihat bangunan fisiknya. Temanku Angling menyarankan ke hotel L Bajo kalau mau ruangan dengan fasilitas enak dan harga murah. Tapi ternyata semua ruangan yang murah sedang direnovasi, jadi tinggal yang mehong. Ada satu-dua hotel yang kelihatannya bersih dan menarik, apalagi dapat seaview begitu, tapi harganya kurang cocok. Akhirnya kami menyempatkan bertanya rate malam ini di sebuah bed station.

“Untuk malam ini 150.000 per malam,” katanya. Wah, lumayan! Rate itu untuk bunk bed dan bukan satu ruangan. Sepertinya memang menginap di bunk bed lebih ergonomis untuk kami sekarang.

Aku melihat-lihat lagi saran penginapan lewat Googe Maps, dan menemukan sebuah hostel bunk bed bernama One Tree Hill. Jaraknya lumayan, 15 menit dari pelabuhan. Ketika kutelepon, ternyata rate mereka sama. Kamipun menuju ke One Tree Hill dengan deg deg an. Google Maps menuntun kami melewati jalan tercepat untuk sampai ke sana. Kami menjauhi area turis ke arah kantor-kantor dinas dan Rumah Jabatan Bupati. Di suatu jalan yang aspal-nya lurus lurus aja, Maps menyuruh kami berbelok ke jalan makadam berpagar rerumputan. Weh, tenanan pora iki dalane? Batinku.

Hari sudah mulai gelap ketika kami baru melalui setengah jalan makadam. Tambah horor suasananya karena hanya sedikit rumah di kanan-kiri jalan, itupun jarak dari jalan rata-rata 100 meter. Beberapa saat kemudian, jeng jeng, ketemu jalan aspal lagi! Dari situ, ternyata One Tree Hill sudah kelihatan, ulala, betul-betul dibangun nempel tebing dengan pemandangan laut Labuan! Kami sempat kebablasan karena mengira ada parkiran di balik tikungan; ternyata semua tamu parkir di bawah tangga masuk, di pinggir jalan.

Naik-naik ke puncak One Tree Hill

Oh ya, kita harus naik tangga dulu untuk mengakses resepsionis dan semua kamar di One Tree Hill, jadi tidak disarankan untuk yang boyoken. Karena belum booking, Mbak resepsionis menyarankan kami untuk booking via aplikasi. Sebetulnya bisa booking di tempat sih, tapi karena lewat aplikasi lebih murah, kami laksanakan dong; mungkin Mbak itu kasihan juga melihat rakyat proletar seperti kami butuh tempat bernaung.

Ruangan resepsionisnya imut, satu bangunan tersendiri dengan satu meja besar, dua bangku customer dan beberapa bean bag untuk shantay. Kami juga bertemu dua teman pejalan yang baru datang, dijemput sama staf hostel dari bandara. Oh ya, hostel ini juga bisa menjemput kita dari pelabuhan. Kata dua orang tadi, mereka lewat jalan mobil yang lebih jauh tapi aspal. Waktu kami lihat dari kejauhan, memang ada jalan aspal yang model-model jalan di bukit pinggir laut gitu (kayak di Senggigi, Lombok), berliuk-liuk dan gelap gulita kalau malam. Sempat pakai drama hapeku habis baterai pasca booking, akhirnya kami berhasil dapat ruangan.


Mbak resepsionis memberi kami masing-masing sebuah tote bag berisi handuk dan alat makan-minum pribadi!

Diantar dua Mas-mas ramah melewati “lantai” backpacker’s lodge dan ruangan untuk toilet, kami disambut ruangan bilik-bilik shower kemudian lorong kecil untuk sampai ke kamar. Ada 7 bed, yang artinya muat 14 orang dalam satu ruangan. Pintunya dari kaca, temboknya dari kayu; warna coklat di dalam, warna warni di luar. Ruangan kami memiliki dek untuk tempat melepas sandal dan dek tambahan untuk melihat ke arah laut. Ada bean bag warna-warni juga untuk leha-leha. Dalam ruangan, sudah ada satu perempuan yang menempati tempat tidur di tengah. Aku memilih kasur di pojok dengan akses pemandangan paling bagus.

Toiletnya aja ada quote-nya. Kusuka

Usai bersih-bersih diri dan ganti baju (bau banget, baju bekas dipakai di Cucut dan Cakalang), kami menuju ke Kampung Ujung untuk bertemu Angling dan Bang Ken. Kali ini, Firman sudah makin pede mengarungi gelapnya jalan makadam untuk ke pusat peradaban Labuan Bajo. Memang jauh sih, Bang Ken juga heran kenapa kami malam ini menginap di One Tree Hill, sudah bunk bed, jauh pula; padahal banyak penginapan di dekat Kampung Ujung yang notabene ada di sebelah pelabuhan feri. Tapi tidak apa, namanya juga pengalaman.

Kampung Ujung itu konsepnya mungkin emm semacam satu ruas jalan untuk pusat kuliner Labuan. Kita perlu membeli token di counter (ada di ujung dan tengah jalan) untuk transaksi di sini. Walaupun kalau token kita kurang, kita bisa bayar pakai cash. Haha. Gitudeh. Kendaraan bermotor tidak boleh lewat ketika pusat kuliner dibuka, jadi kita bisa parkir motor di ujung atau gang kecil sebelah ruas jalan. Pagi sampai sore hari, ruas jalan ini dibuka, dermaga Kampung Ujung dimanfaatkan untuk berangkat tur LOB (Live on Board).

Kami makan di vendor yang direkomendasikan Angling. Kalau makan di sini, siap-siap ya karena harganya mahal, berkali lipat dari Kampung Solor di Kupang. Aku sedikit rela sih, karena kalau dibanding Kampung Solor, di sini lebih bersih. Walaupun tetep aja mahal dan Angling secara gesit mentraktir kami, huhu. Alhamdulillah deng.

Bang Ken dan Angling juga bukan asli Labuan. Angling pindah ke sini untuk mengajar di sebuah politeknik pariwisata swasta yang baru buka, Bang Ken dapat tugas dari NGO-nya untuk berkantor di Labuan. Mereka bercerita kalau di Labuan Bajo sering sulit air. Aku jadi teringat sebuah video dokumenter dari CNN Indonesia yang menceritakan hal ini; water scarcity at paradise. Sedikit banyak, pariwisata berkontribusi menyebabkan hal ini. Lagipula, sekarang ini Labuan Bajo sudah jadi semacam hub kedua yang paling ramai di NTT setelah Kupang, ibukota provinsi. Makin-makin deh banyak pengunjung singgah di Labuan.

Sisi baiknya, kata Angling, orang Flores yang dia temui semua baik dan ramah. Bang Ken juga menyetujui. Mungkin itu juga sebabnya Labuan Bajo dan Flores secara umum lumayan maju pariwisatanya (dibanding Sumba), orang Flores hospitality-nya sudah mendarah daging. Harga kain tenun Manggarai Barat juga lebih murah dibanding Sumba. Sebabnya, kain Manggarai Barat sudah diproduksi massal, berbeda dengan kain tenun ikat Sumba Timur yang mahalnya bikin istighfar tapi bisa digadaikan dan wajib untuk belis atau mahar perkawinan. Dan, ya itu sih, semua pedagang tenun keliling di sini, baik yang jadi dibeli atau tidak, selalu senyum dan bertutur sopan. Abang penjaja kain tidak perlu secakep Nicholas Saputra untuk bikin kita baper dan merasa ikut terkena vibe bahagia di Labuan.

Tanpa direncanakan, kami semua (kecuali Angling) pakai jaket Eiger. Ini juga Angling yang nyadar. “Tau gitu aku juga pakai jaket Eiger,” katanya.

Pengaruh dari pariwisata selalu punya dua sisi untuk masyarakat lokal maupun lingkungan: baik dan buruk. Ia membuka peluang kerja untuk masyarakat lokal, juga bagi pendatang. Siapakah pemilik asli dari restoran dan hotel yang banyak menjamur di tempat wisata? Ke mana sampah-sampah pelancong berakhir? Dan pertanyaan-pertanyaan lain semacam itu yang selalu terlintas di benakku ketika berkunjung ke tempat wisata. Jawabannya, ndak mau aku tulis di sini dulu. Sampai jumpa!

Catatan:
Video IGTV Road Trip NTT (part 1)
Artikel Google Connect “Hostel Hunting at Labuan Bajo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: