Travel

Road Trip NTT (bagian 2) – Seharian di KMP Cakalang (Sape – Labuan Bajo)

Mendengar pintu diketuk, aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur sambil ngulet.

“Sarapan,” resepsionis hotel berkata singkat setelah pintu kubuka. Ia menyodorkan nampan yang menyangga dua piring (kecil), roti tawar isi gula, dan dua cangkir kopi. Aku melongo. Kakak Resepsionis pergi, lalu lekas kuteriakkan, “Terima kasih!”

Aku dan Firman sedang menginap di Sape, di sebuah hotel bernama De Aussaf. Kami tidak berharap diberi sarapan, tapi ternyata bukan tipu-tipu! Aku melahap roti tawar dengan cepat sementara Firman minum.

“Tumben, minum kopi,” kataku.

Firman menelan, “Ini teh, bukan kopi,” katanya.

Kemudian aku meminum cangkir satunya. Sial, ternyata kopi. Satu teh (super) manis, satu kopi. Aku sedang tidak ingin minum kopi pagi itu, dan teh-nya terlalu manis. Mood-ku jelek.

Kami akan menuju Labuan Bajo pagi ini (hore). Dari Pelabuhan Sape, kapal ke Labuan Bajo berangkat setiap pukul 09.00 WITA. Setelah cepat-cepat mandi, packing dan berpamitan ke resepsionis hotel, kami menuju ke pelabuhan, yang ditempuh dalam 3 menit pakai motor (sudah termasuk mengeluarkan dan kasih panas).

Aku membeli tiket sementara Firman memarkir Supra. Loketnya tertib! Sepi, malah, tidak ada antrean. Bapak penjaga loket bahkan sempat mengajakku bercanda sedikit. Tapi karena bercandanya setengah hati, garing dan mood-ku entah kenapa jelek, aku jadi kesal dan melengos setelah menyodorkan uang. Padahal dia cuma bertanya tinggal dimana, tempat tinggalku dengan “yang laki-laki” sama atau tidak, apakah sesuai KTP atau tidak. Semata untuk keselamatan, memang. Waktu itu aku beranggapan, mengapa tidak langsung saja dia minta KTP? Dengan dingin aku menyodorkan KTP, “Ini Pak, lihat di KTP kami aja.”

Biaya kapal hari itu Rp250.000,00 untuk dua orang dan satu motor.

Kami membeli sarapan dan bekal makan siang untuk di kapal. Dengan Pruta (seri wadah makanan IKEA yang bukan Tupperware) pastinyaaa. Karena lapar, kami sempat makan sedikit di dermaga. Ajaib, mood-ku langsung membaik. Memang, logika tidak bisa berjalan tanpa logistik!

Jam setengah sembilan, kami dan Supra dibolehkan masuk ke kapal. Kali ini, kami akan menaiki Kapal Motor Penumpang (KMP) Cakalang II. Diparkir di sebelah Cucut, Cakalang kelihatan lebih lebar dan tinggi. Walaupun aku sudah siap menghindari serbuan asap rokok dan mendengar keseruan judi dadu, aku tetap berharap perjalanan dengan Cakalang lebih enak daripada Cucut.

Hai, Cakalang!

Supra diparkir di dek muatan, bersama beberapa motor lain dan truk-truk yang membawa pisang serta barang niaga ke Labuan Bajo. Kami mencari tempat duduk di dek kedua—dek penumpang. Waktu celingak-celinguk, kelihatan lah tulisan “Ruang VIP”. Lekas-lekas kami masuk dan meletakkan tas –tanda ngecim tempat.

“Wah ini mirip kapal dari Aimere, tapi lebih kecil sedikit,” kata Firman. Dari kemarin, dia bicara yang indah-indah terus tentang kapal Aimere-Waingapu (PP) yang pernah dia tumpangi. Ranaka, kalau tidak salah, namanya. Katanya, ada ruang VIP nya, bersih, nyaman, ya pokoknya yang bagus bagus deh. Nah, Cakalang II menurut kami juga bagus! Dek atas bisa kami kunjungi, jadi sewaktu-waktu bosan di dek penumpang, bisa ke atas cari angin, ngintipin nakhoda lagi nyetir, atau lihat-lihat pemandangan. Dengan kapal ini, kita akan melewati banyak pulau kecil di kanan-kiri jalur lintas kapal.

Kami berjalan ke luar, ke belakang ruang VIP; melewati kafetaria dan ruang duduk, ruang tatami, dan tangga menuju dek atas. Di dek atas, kami bisa melihat penampakan dek atas KMP Cucut yang sedang ngetem di sebelah. Dia terlihat damai ketimbang kemarin: sumpek dan penuh asap rokok. Kita bisa berjalan sampai ke ruang nakhoda (tapi ngga boleh gangguin!), melihat pemandangan Sape dari atas dan pulau-pulau di dekatnya. Ada satu pulau kecil yang di puncak bukitnya ada tulisan ‘PULAU BAJO’. Katanya memang di situ orang-orang Bajo tinggal.

Bye, Cut!

Cakalang II berangkat pukul 10.00 WITA setelah terompet panjang ditiup oleh yang meniup. Kayaknya sih itu tombol dipencet gitu, mana ada jaman sekarang tiup tiup terompet buat signal kapal. Kapal mulai berjalan pelan meninggalkan Sumbawa.

“Kanan 5, kiri 1,” seorang petugas kapal berbicara lewat walkie-talkie. Kami menuju Labuan Bajo. Bye, Sape! Aku dan Firman melambai-lambai ke Pulau Sumbawa dari dek atas. Kami akan berada 8 jam di dalam Cakalang II, kalau lancar.

Dek atas, bagian belakang kapal

Pertama-tama, kami kembali makan satu bungkus bekal untuk berdua. Lalu, aku tidur duluan. Enaknya Ruang VIP, ada AC-nya. Adeeem. Kapal ini lebih besar dari Cucut, jadi goyangan menerjang ombak tidak terlalu terasa. Aku tidur pulas sampai mimpi, sampai lupa mimpi tentang apa, bangun, melamun sebentar, sampai Firman datang duduk di sebelahku.

“Maaf ya, tadi kamu tidur, jadi aku gak bangunin,” katanya tiba-tiba, menyodorkan hape-nya. Dia memutar sebuah video.

Ternyata video lumba-lumba berenang di sebelah kiri kapal! Sedihnya aku tidak bertemu dengan para dolphins..tapi yasudah tidak apa-apa. Aku membuka hape. Ya ampun, ada sinyal! Sayup-sayup, sih, jadi aku ke luar ruang VIP menuju dek atas untuk mencari sinyal.

Aku memperhatikan lagi isi dek penumpang. Ada dua smoking area di ruang duduk kafetaria (tengah) dan dua di ruang tatami. Kafetaria bersih, bau indomie telur-nya menggoda parah. Televisi berfungsi semua dan sedang memutar Game of Thrones, tapi kadang dipindah-pindah ke channel lain yang tertangkap sinyal parabola kecil di dek atas. Penumpangnya lumayan tertib. Aku juga melihat banyak toilet. Di Ruang VIP, ada dua toilet. Ruang tengah punya 4 toilet, dan ruang tatami ada 4 toilet. Di pojok kiri belakang kapal, terdapat ruang salat dan tempat berwudhu. Oke pokoknya!

Tidak salah, memang, aku ke dek atas. Sinyal Telkomsel 4G. Bahkan di dalam kosku di Waingapu, jarang sinyal 4G Telkomsel tertangkap loh. Lumayan, aku jadi bisa update Instastory. Foto sana foto sini, turun ke dek muatan, rekam sana rekam sini. Kami sempat makan indomie telur di kafetaria, ditambah bekal yang sudah kami bawa dari Sape. Hebatnya, indomie telur-nya pakai sawi! Rasanya enak banget, mirip indomie! Kapan lagi makan indomie telur harga Rp20.000,00 yakaan.

Beberapa muatan KMP Cakalang II: sayur mayur.

Sepanjang perjalanan, aku dan Firman bahagia, terkena sinar matahari, jauh dari asap rokok, bisa makan dan ngemil dengan tenang. Kami sempat berpapasan dengan Cakalang I yang berlayar ke Sape sebelum melewati Kepulauan Komodo. Waw, komodo-nya tidak kelihatan! Mendekati jam 6 sore, sesuai dengan waktu tempuh, Labuan Bajo sudah terlihat. Kami naik ke atas dek, biasa, kepo proses kapal merapat. Hujan mulai turun rintik-rintik.

Kapal-kapal LOB

Dari kejauhan, Labuan Bajo kelihatan jauh jauh jauuuh lebih ramai daripada Sape. Ada satu hotel yang memajang namanya seperti tulisan Hollywood di Santa Monica. La Cecile, kalau tidak salah. Kelihatan sekali banyak penginapan di perbukitan. Kami melewati berpuluh kapal LOB (Live On Board) yang parkir di sekitar Labuan. Di parkiran dermaga, mobil-mobil travel bertuliskan “Labuan Bajo – Bajawa” atau “Ruteng” diparkir rapi.

Welcome to civilization!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: