Travel

Road Trip NTT (bagian 1) – Waikelo dan Sape

“Mau ke mana?” tanya penghuni kamar sebelah, yang bangun pagi untuk menyiapkan nasi kuning dagangannya.

“Ke SBD—Sumba Barat Daya,” jawab Firman.

Aku mematikan kipas angin dan sakelar soket sebelum menuju pintu. Firman berdiri selesai mengikat tali sepatunya. Setelah mematikan lampu kamar dan memastikan pintu terkunci, kami memanggul tas masing-masing dan berjalan pelan. Saat itu jam 4 pagi, azan subuh belum juga berkumandang.

 “Kami pergi dulu, ya. Sampai jumpa.”

“Naik motor? Hati-hati.”

Aku menghirup udara pagi hari yang dingin dan sejuk. Kami bermotor ke arah Waikabubak (Sumba Barat), ke jalan menanjak dan menjauhi pesisir Waingapu. Memasuki kawasan Radar di dekat Patung Kuda, udara semakin dingin. Kami terlindung jaket windproof dan sepatu. Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di Lewa dan berbelok sedikit dari jalan utama untuk salat di masjid. Setelah salat, kami meregangkan badan sedikit, menghirup udara segar, memotret angka kilometer di motor dan kembali ke jalan.

Memanfaatkan libur Nyepi tanggal 7 Maret, Firman mengambil beberapa hari cuti sehingga kami bisa berlibur seminggu penuh. Awalnya, kami merencanakan road trip dengan motor kami, Supra, mengunjungi Ende, Ruteng, Bajawa, dan Aimere. Karena beberapa kapal docking, jadwal kapal yang tiba-tiba berubah, awalnya kami sempat sedih dan berniat liburan di Sumba saja. Akan tetapi, berhubung cuti sudah telanjur diambil, kami sepakat untuk tetap berusaha menginjak tanah Flores. Akses yang paling mungkin ditempuh adalah menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Waikelo (Sumba) ke Pelabuhan Sape (Sumbawa), kemudian dari Pelabuhan Sape (Sumbawa) ke Pelabuhan Labuan Bajo (Flores). Kebetulan, kami sekalian bisa mengunjungi teman-teman di Labuan Bajo. Pas!

Kapal dari Pelabuhan Waikelo dijadwalkan berangkat jam 9 pagi, sementara jarak dari tempat tinggal kami di Waingapu (Sumba Timur) ke Waikelo (Sumba Barat Daya) sekitar 170-an km. Kami akan melewati dua kabupaten lain: Sumba Tengah dan Sumba Barat. Kalau menurut Google Maps, waktu tempuhnya 3 – 4 jam, tapi itu nggak nyantai! Perjalanan yang lumayan santai sekitar 4 – 4,5  jam dengan motor, 4,5 – 5 jam dengan mobil. Demi mengejar mas-mas feri Waikelo-Sape, kami berangkat sebelum subuh.

Jalan menuju ke Pelabuhan Waikelo semakin berkelok ketika kami memasuki kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru. Tidak sedikit mobil yang tadinya mengebut kelihatan menepi—kelihatannya ada penumpang yang muntah. Beberapa kali kami juga melihat motor dengan plat luar Sumba seperti DK dan DR menuju ke arah barat. Ah, mungkin mereka sama seperti kami: mengejar kapal ke Sape!

Pantatku rasanya kebas, dan mulai tidak sabar dengan pemandangan yang begitu terus: hutan hujan, kicau burung, belokan yang bikin pusing. Tiba-tiba, waw, ada bukit terbuka di depan kami. Kami melewati kawasan taman nasional yang berbukit dan hutan sejauh mata memandang, tepat ketika matahari baru saja terbit. Di tepi seberang jalan, bisa-bisanya ada elang yang terbang sans sejajar dengan motor kami. Aku tidak berhenti untuk memotret karena terlalu menikmati.

Selain kawasan taman nasional, kita akan menjumpai permukiman warga, kantor-kantor pemerintahan dan beberapa pom bensin. Sebelum memasuki Sumba Barat, ada satu pom bensin di Sumba Tengah untuk meregangkan kaki sedikit dan mengisi bensin Supra sebelum perjalanan panjang ini.

Kami juga sempat mampir ke ATM bank BNI di Waikabubak (Sumba Barat), beli nasi kuning (yang jualan orang Jawaaaaa omegaaat) dan beli tisu basah serta botol aqua 1,5L di Yen Mart Waitabula (SBD). “Mau pergi (jalan-jalan), ya?” sapa petugasnya ramah, melihat penampilanku: jaket windproof dan buff di leher.

Dari situ, Pelabuhan Waikelo sudah lumayan dekat. Pertigaan pasar Waitabula (depan hotel Sinar Tambolaka) belok ke kiri (melewat pasar, rame banget). Kami sempat deg-deg-an takut terlambat naik feri karena macet di pasar, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 8.50 WITA. Akhirnya lolos! Sampai di pertigaan yang mentok gitu, ada petunjuk pelabuhan feri ke arah kanan, tapi itu tipu-tipu, kanan adalah arah ke Pantai Kita. Bagus buat foto-foto dan melamun, tapi kali ini kita perlu kejar kapal! Kita harus belok ke kiri, karena di sanalah pelabuhan feri yang sesungguhnya.

Di Pelabuhan Waikelo

Sampai sana, pelabuhan ramai orang. Sepeda motor lalu lalang, truk-truk diparkir berjajar menunggu giliran muat. Kami tidak boleh langsung melewati pagar untuk ke dermaga.

Iyah~

“Beli tiket dulu di sana, ya,” ujar Pak Petugas ramah.

Loh, tapi kok, tapi kok, di kantornya kelihatan tidak ada orang. Rupanya, konter tiket di Waikelo adalah sebuah bangunan kecil yang mirip kantor jaga. Kenapa loket di bangunan besar tidak dimanfaatkan, aku tidak tahu. Mungkin belum dipasang AC atau kipas angin sehingga orang lebih pilih bangunan kecil di luar. Konsekuensinya, beli tiketnya serudak seruduk. Antrean nggak bener banget dah, dan aku harus menyusup di antara lautan calon penumpang lain. Untungnya, semua saling memahami kebutuhan membeli tiket, jadi kami mempersilakan yang memang sudah lebih dulu membeli untuk mendapat gilirannya, meskipun ada juga yang nyebelin mau duluan gituuu.

Sementara Firman memarkir Supra, aku membeli tiket, ikut berdesakan dengan banyak orang yang mengerubungi satu loket kecil. Setelah sekian purnama (halah!), lepas jaket dan kipas-kipas, akhirnya dapat juga! Dua penumpang dan satu motor.

Totalnya Rp220.000,00

“Motor belum boleh masuk. Ade’ Nona (Chaty) masuk dulu saja untuk cari tempat, taruh barang, lalu bisa kembali lagi jemput Ade’ (Firman) dengan motor.”

Begitulah. Sempat ragu, akhirnya aku masuk ke ke kapal duluan untuk ngecim tempat. Karena masih newbie, aku was-was kalau ninggal barang bakal disingkirkan atau malah ditilep, jadi aku tidak kembali ke dermaga dan mengirim pesan saja ke Firman. Kami dapat tempat duduk di sebelah kiri, depan toilet. Tidak lama kemudian, Firman datang setelah memarkir Supra di dek bawah. Kamipun duduk berselonjor untuk meluruskan kaki yang sudah ditekuk selama perjalanan.

Penampakan kapal dari dermaga Pelabuhan Waikelo

Kapal ini namanya Kapal Motor Penumpang (KMP) Cucut. Dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) untuk melayani rute Waikelo – Sape (PP), berangkat dari Waikelo (kalau lancar) setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu jam 9 atau 10 WITA. Waktu kami naiki, Cucut berangkat pukul 10.30 WITA (asem, sudah was was ketinggalan pula!) dan sandar di Sape pukul 21.00 WITA. Whaatt padahal di website ASDP bilangnya 9 jam padahal. Begitulah kalau di laut, memang apapun bisa terjadi.

Kami menghabiskan waktu dengan bergiliran tidur dengan posisi tekuk sana tekuk sini. Lalu ada satu hal yang baru disadari: kami nggak bawa buku! Terlambat sudah, nasi sudah menjadi nasi uduk, kami menunggu dengan melakukan hal-hal lain. Lihat-lihat hape, foto-foto isi kapal, lihat pemandangan, nguping orang-orang nelpon, dan jalan-jalan. Sayangnya, kami tidak bisa naik ke dek atas, jadi penjelajahan kami cukup di dek penumpang dan dek muatan/kendaraan.

Tempat sampah, yang sekalipun sudah dipisah, orang tetap sembarangan masukin atau bahkan tetap buang ke laut. Hasssh!

Kendaraan yang dimuat Cucut kebanyakan kendaraan untuk niaga, seperti truk berisi unggas, kuda, kambing, atau hasil bumi dari Sumba seperti alpukat (waktu aku menulis ini, alpukat lagi banyak di Sumba Barat) untuk dibawa ke Sumbawa atau Bali. Dek penumpang tidak kalah meriah. Di belakang ruang duduk depan (tempat yang kami cim), ada ruangan bunk bed yang nggak ada bed-nya (tapi kita bisa sewa matras ke ABK). Ada yang buka lapak judi dadu! Ruangan ini jadi ruangan paling ramai, paling bau asap rokok, dan meriah di kapal.

Karena tidak ada ruang khusus untuk merokok, semua orang merokok di sembarang tempat. Di sebelah anak kecil pun ada orang merokok. Sebal aku, tapi yah bagaimana lagi. Aku cukup pusing menghirup asap rokok, jadi seringkali berdiri di pinggir dek agar dapat udara segar. Hanya saja, kalau terlalu lama bisa ingusan, dan bisa sakit hati melihat banyak orang masih saja buang sampah di laut. Kami cuma bisa sebal dalam hati. Satu-dua orang yang kami ingatkan, pura-pura tidak dengar. Asem!

Ada juga yang menyenangkan. Kami melihat paus berlompatan dari sebelah kanan kapal! Aku tidak yakin jenis pausnya, yang jelas kulitnya hitam jelaga dengan sedikit noda putih-abu, dan ekornya berbentuk seperti tunas kecambah. Menjelang malam, kami berdua ke area kendali bagian bawah-depan kapal yang sebenarnya bukan untuk penumpang. Selain kami, sudah banyak orang yang sedari siang duduk duduk di sana untuk mencari udara segar. Sekitar 15 menit kami stargazing, sebelum kembali ke tempat duduk.

Tidak lama setelah stargazing, awak kapal mengumumkan bahwa kapal akan tiba di Pelabuhan Sape. Sekitar 15 menit kemudian, kapal sudah siap untuk sandar. Seru juga memperhatikan awak di kapal dan di darat bekerja sama untuk menambatkan tali ke dermaga. Malam itu juga, kami memutuskan, itulah kali pertama dan terakhir kami akan naik KMP Cucut.

Sape

30 menit setelah merapat, kami baru bisa keluar dengan Supra. Lekas-lekas kami mencari tempat untuk makan malam, karena perut su lapar dan kafetaria kapal tidak kondusif untuk makan. Tempat-tempat makan sudah tutup. Ada satu-dua warung padang yang buka, tapi kata Firman, “Sebaiknya kita cari yang lain.” Dan aku setuju. Kami menemukan warung solo di seberang Puskesmas yang sangat luas. Warung Solo Mas Brow. Orangnya ramah dan kami makan dengan lahap. Mas Brow dan istrinya banyak bercerita tentang Sape, bagaimana mereka bisa sampai tinggal di Sape, dan cerita-cerita unik yang mereka hadapi di Sape.

Iyah, aku memesan dalam Bahasa Jawa 🙂

Kami menginap di Hotel De Aussaf, kamar AC untuk dua orang, Rp200.000,00 per malam sudah termasuk sarapan.

Penampakan lorong De Aussaf

Tapi kata Mas Brow, De Aussaf termasuk mahal di Sape. Di Sape, banyak losmen yang lebih murah harganya, rata-rata Rp50.000,00 per orang per malam. Hanya saja, kalau kalian perlu menginap di Sape, aku sarankan untuk menginap di De Aussaf. Atau, kalau bawa kendaraan, menginaplah di Bima..tapi kalau tiba di Sape sudah malam, ngeri juga sih mau pergi ke Bima. Karena, hmm, teman-teman bisa baca beberapa review di Google mengenai penginapan di Sape…

Begitulah, pada malam itu, Sape masih misterius dan tidak menarik at the same time. Paginya, kami melihat beberapa kapal besar sedang dirakit di sekitar pelabuhan. Wow, lumayan menarique nih. Dan di seberang jauh sana, terlihat sebuah pulau dengan tulisan besar-besar (mirip plang Hollywood itu loh) dibaca: PULAU BAJO. Kebanyakan penduduk Sape aslinya pelaut dari Bajo dan Bugis, selain Mas Brow pastinya. Tapi, kami sudah tidak sabar untuk segera tiba di Labuan Bajo!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: