Travel

On The Way to Haharu

Sekitar jam 10, kami selesai berkemas—dengan malas, tentu!—dan memulai perjalanan hari itu.

Azka, Boni dan aku sudah menyepakati hasil diskusi sekitar 30 menit lalu: kami akan ke arah Haharu, mencari the road to Kalamba. Hal pertama disarankan Anne, seorang cewek Australia yang kami temui saat sarapan di teras pusat villa (karena memang di situlah restoran-nya). Ia datang ke sini untuk menemui partner organisasi sosial-nya, yang memiliki program peningkatan pendapatan di Haharu, dan ia tahu sedikit tentang Kalamba.

Boni menemukan Kalamba di media sosial dan, oh, betapa foto itu kelihatan tidak nyata!

Kami melewati jalan panjang dengan padang luas di kanan-kiri. Saat itu musim hujan: padang dan bukit dipenuhi rumput dan tumbuhan hijau di seluruh Sumba Timur. Di saat begini, tentu kami bertiga mengeluarkan smartphone dan merekam momen dan keindahan pemandangan itu. Serombongan kuda sandelwood tanpa gembala menyeberang jalan dan kami terpaksa menunggu sebentar.

“Aih, kuda menyeberang saja direkam?” kata Om Bai. Kami semua tertawa.

Setengah jalan, kami ribut meminta Om Bai menghentikan mobil. Alasannya: langit biru, awan putih, di atas jalan di tengah padang-hijau-sejauh-mata-memandang! Tentu saja ingin kami abadikan bukti keberadaan kami di Puru Kambera. Selama 30 menit kami mencari angle, berpose, melompat, melihat hasilnya, ribut ini dan ribut itu.

“Yang begini sih di Sumba banyak. Di Jawa tidak ada kah? Kenapa bisa senang sekali? Aih, aih, aih…,” kata Om Bai, antara menggerutu dan geli, usai kami puas mengambil gambar. Kami bersahutan membalas Om Bai: intinya, tidak ada yang macam begini lagi di Jawa, Om!

“Sudah, nanti kita ketemu pemandangan yang lebih bagus, Bos!” ujarnya riang kepada Firman.

Dan benar saja, setelah lama mobil melewati jalan berkapur yang seolah tidak berujung, kami kembali bertemu jalan aspal di atas bukit. Om Bai menepikan mobil dan menunjuk ke arah pohon—entah pohon apa—di tepi tebing atas. Kami berjalan ke arah sana (Boni paling bersemangat). Matahari sudah terik saat itu. Rupanya kami di tempat terbaik untuk melihat pemandangan jalan ke arah Kalamba. Hampir persis seperti gambar yang Boni lihat di media sosial. Bedanya, ini nyata.Terbaik.

Jalan itu sepi. Hampir dua jam kami di sana, tidak lebih dari lima sepeda motor yang lalu lalang. Angkutan jarang masuk ke desa yang kami tidak bisa melihat itu. Mungkin baru berjam-jam kami bisa mencapainya, bila saja kami memutuskan untuk ke sana. Untung perut yang lapar keburu memberi sinyal, sehingga kami kembali ke Waingapu sebelum sore menjelang.

Aku tak bisa lupa bagaimana rupanya kelok-kelok jalan di sana, pahatan bukit-bukit di sejauh mata memandang, dan betapa birunya langit saat itu dengan awan-awan yang tepat memosisikan diri. Sekalipun tidak ada foto untuk mengingatkan, aku akan ingat, ada sebuah tempat di Bumi, salah satu tempat, dimana alam menunjukkan bentuk megahnya dengan ramah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: