Daily Life

Life Updates dari Sumba Timur

Hei!

Di tulisan kali ini, aku ingin berbagi tentang kehidupan di Sumba Timur sejauh ini, sebagaimana yang sudah kujanjikan di deskripsi video YouTube ini. Ini adalah ceritaku tentang Sumba Timur yang disusun tidak dengan kaidah ilmiah, tidak sistematis apalagi menghadirkan bukti empiris.

Kehidupan masih berjalan seperti biasa. Akhir tahun kemarin, kami pulang ke Jakarta selama 10 hari, kemudian ke Magelang. Awalnya, kami akan kembali ke Sumba di minggu kedua Januari 2019, tetapi aku memutuskan reschedule sampai akhir bulan untuk menyelesaikan prosedur bedah gigi bungsu. Skenarionya, ada beberapa hari yang disisihkan sampai lepas jahitan, kemudian pemulihan. Aku kembali ke Sumba sendirian untuk pertama kalinya. Woo hoo!

Pulau Sumba terdiri dari empat kabupaten: Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Aku tinggal di Sumba Timur, di dekat pelabuhan rakyat, lumayan dekat juga dengan bandara. Kalau ada tsunami, mungkin kami bisa kena, tapi semoga ada waktu untuk cepat-cepat lari ke bukit yang juga dekat dengan kos. Kami tinggal di Kecamatan Kota Waingapu, di pusat tata surya Sumba Timur gitudeh. Bukan di bukit-bukit atau desa adat seperti yang ada di foto-foto hits instagram yha.

Bukan yang ini, bukan.

Waingapu termasuk kecamatan yang sering mengadakan “pesta rakyat” dibanding ibukota kabupaten lainnya di Sumba. Seminggu yang lalu contohnya, ada peragaan motocross dan konser band lokal yang dibiayai perusahaan rokok (huft!) di lapangan rakyat, dekat Rumah Jabatan Bupati. Awal bulan Februari ini, untuk pertama kalinya ada Car Free Day di Waingapu, dipusatkan di Taman Sandelwood dekat sini, dalam rangka Millenials Road Safety Festival yang diselenggarakan di seluruh Indonesia…katanya. Walaupun aku kurang paham, kenapa di Road Safety Festival justru ada segmen acara drama atraksi motor jalanan (walaupun kemudian ditangkap polisi, ceritanya).

“Untuk menunjukkan kalau kebut-kebutan di jalanan gak bakal lolos dari polisi, gitu.” Kata Firman. Okelah.

Kegiatanku sehari-hari saat ini lebih banyak melakukan pekerjaan domestik, menulis, update instagram pribadi dan @sederhanaid (yang kukelola bersama Iyut), berlatih menggambar, dan seringnya bermain bersama dua anak tetanggaku. Mereka sangat pintar dan baik hati kalau pas nggak ngamuk. Dulu kami sering menonton video tentang hewan-hewan, lagu-lagu anak dan dongeng nusantara. Kadang aku mendongeng untuk mereka. Sekarang ini, mereka mewarnai gambar-gambar yang aku buat.

Beberapa hasil project #bersamaarifutam

Baru-baru ini, orang tua mereka buka warung nasi kuning di pagi hari. Enak banget. Saat malam, kuliner Waingapu lebih beragam. Bakso, mie ayam, penyetan, dan sekarang ada satu warung ayam geprek baru dibuka. Sial, aku keduluan nih! Ada satu warung lamongan yang aku belum pernah ke sana, tempatnya di sebelah Spotlight, semacam Boshe-nya Waingapu. Ada juga kedai es coklat di beberapa tempat. Kalau mau fancy sedikit, ada 2-3 kafe yang bisa dikunjungi, dan salah satunya punya koneksi WiFi yang oke. Aku dan Firman suka jajan kalau ada rejeki dan mencatatnya di instagram @eatsumba. Lebih banyak jajan bakso sih, kalau ke kafe kadang kurang kenyang.

Harga ikan di sini lumayan mahal bila dibandingkan dengan daerah pesisir lain di Nusa Tenggara Timur. Ikan yang paling banyak dijual dan harganya murah adalah ikan tembang, yang kata orang Kupang di sana dibuang-buang. Lebih besar sedikit ada ikan kombong. Selain itu, ada banyak jenis ikan berukuran mikro hingga makro. Udang, hmm, aku sedikit kesulitan mendapatkan udang karena banyak peminat udang di sini, sedangkan yang menjual hanya 1-2 kios di pasar dekat dermaga. Oh ya, ada dua pasar yang aku sering sambangi: pasar dekat dermaga dan pasar inpres di dekat kos. Yang terakhir kusebut adalah yang paling besar di Sumba Timur. Aku biasa membeli bumbu dapur, buah, sayur dan ayam di sana.

Hal buruknya, tentu ada.

Contoh termutakhir adalah pengalamanku pagi ini. Barusan, aku mengunjungi Plasa Telkom, ke area wifi.id mereka. Lumayan kan, bisa nongkrong, gratis wifi-an pakai username sama password indihome, bekal laptop sama sebotol air. Sampai di sana, lah, kok tempatnya…kotor. Ada satu meja panjang yang sebenarnya adalah beberapa meja panjang yang dijejer, di bawahnya bertebaran puntung rokok dan aku sempat-sempatnya menginjak botol aqua 1,5 L KOSONG yang teronggok di situ. Mejanya kotor. Aku tiup-tiup dulu sebelum meletakkan laptop. Tempat duduknya juga memanjang, hanya ada aku, seorang laki-laki yang menghadap laptop di seberang tempatku duduk, dan dua anak muda (aku yakin sih mereka bolos sekolah) yang sedang main game online lewat ponsel. Yea, suaranya kencang sekali dan membuatku tidak nyaman. Mungkin itu sebabnya laki-laki di seberangku memasang headset ke telinganya.

Aku akan melakukan hal yang sama seandainya aku tidak terganggu dengan banyaknya serangga-serangga kecil yang beterbangan, yang itu lho, yang suka mengerubungi tempat sampah tapi bukan lalat. Cepat-cepat aku kemasi laptop yang sudah telanjur kukeluarkan, padahal aku belum berhasil login. Setelah kulipat, eh, ternyata bagian belakang tudung laptop (yang kugunakan sebagai alas) kotor kena bekas abu rokok. Wasyem. Tanpa pamit kepada rekan-rekan selo-ku, aku pulang ke kos.

Untungnya, di dekat situ ada pemandangan yang membuat aku tersenyum dan ingin berenang.

Kiri pelabuhan feri, kanan pelabuhan rakyat. Atas langit biru, bawah laut biru-mengundang.

Dan begitulah, seperti sebuah kehidupan yang utuh, ada yang baik dan ada yang buruk. Ada yang patut disyukuri, dan ada pula yang wajar disambati. Ada nikmat ada nestapa, ada suka ada duka. Yang jelas orang-orang yang kutemui di sini baik-baik semua. Yha bukan yang baik banget terus kayak malaikat, tapi ya manusia yang baik lah. Kebanyakan penghuni kos adalah orang dari luar Sumba Timur, ada yang dari Kupang, Sumba Barat, Cirebon. Sebagian besar polisi. Kurang bersyukur apa aku ini.

Sumba itu beragam, dan orang Sumba ya sama dengan orang pada umumnya. Perbedaan-perbedaan itu, kalau ambil istilah Dalai Lama ke-14, semua adalah lapisan kedua. Warna kulit, ras, agama, semuanya lapis kedua. Ketika kita fokus ke lapisan pertama, bahwa kita semua ini penunggu bumi, makhluk Tuhan (yang ini boleh diskip kalau atheis), dan sama. Ya, sama. Makanya aku suka sebal dengan penggambaran orang Timur sebagai orang yang eksotis, atau menjadi yang “liyan”, atau bahkan sampai menormalkan rasa kasihan kepada “mereka yang berbeda” ini. Yang kita butuhkan bukan rasa kasihan, bukan bantuan duit, tapi kesadaran bahwa semuanya berhak mendapatkan akses dan kesempatan yang sama untuk…sejahtera. Ada yang punya uang tidak seberapa, tapi cadangan pangan melimpah dan punya ketrampilan bercocok tanam. Ada yang punya uang banyak tapi beli makanan, sangat bergantung kepada stabilitas harga. Kasihan yang mana?

Lah, kenapa jadi ngegas?

Santai dulu santai dulu…

So I’m super happy living in Sumba right now. Ada beberapa hal yang ingin kuketahui lebih dalam tentang Sumba. Semoga aku bisa menuliskannya di lain kesempatan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: